HARI ASMA SEDUNIA 2010

Kegiatan Hari Asma Sedunia diselenggarakan di setiap negara oleh para praktisi kesehatan dan anggota masyarakat yang ingin membantu mengurangi beban kesehatan karena asma. Pertama kali kegiatan ini diadakan pada tahun 1998 di Barcelona Spanyol dan dirayakan di lebih 35 negara. Sejak saat itu partisipasi negara-negara kian meningkat dan menjadi salah satu kesadaran terhadap asma paling penting di dunia dan dikegiatan pendidikan. Hari Asma Sedunia dicanangkan oleh Global Initiative for Asthma (GINA) yang merupakan organisasi kerja sama WHO dengan National Hearth, Lung and Blood Institute Amerika Serikat. Hari Asma Dunia 2010 diselenggarakan pada tanggal 4 Mei 2010 sebagai suatu wujud kemitraan untuk meningkatkan kesadaran tentang asma dan meningkatkan perawatan asma di seluruh dunia. Tema Hari Asma Sedunia kali ini mengambil tema “You Can Control Your Asthma.” Masih seperti tahun sebelumnya, acara masih menitikberatkan pada tema yang telah diperkenalkan Hari Asma Sedunia tahun 2007 yang lebih menekankan pada kontrol asma sesuai dengan panduan terbaru dari GINA.
Tahun ini juga merupakan suatu kampanye global untuk mendorong pemerintah, Departemen Kesehatan dan organisasi kesehatan profesional lainnya untuk meningkatkan kontrol terhadap asma dan mengurangi rawat inap karena asma sebanyak 50% pada tahun 2015. Asma terkontrol adalah tujuan pengobatan dan dapat dicapai pada sebagian besar pasien asma dengan pengelolaan yang baik. Asma dikatakan terkontrol bila :
• Tidak ada (atau minimal) gejala-gejala asma.
• Tidak bangun di malam hari karena asma.
• Tidak ada (atau minimal) penggunaan obat pelega (reliever)
• Kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik dengan normal dan berolahraga
• Normal (atau mendekati normal) hasil uji fungsi paru (PEF dan FEV 1)
• Tidak ada (atau sangat jarang) terjadinya serangan asma
Sebuah strategi untuk mencapai dan mempertahankan asma terkontrol telah diatur pada GINA Strategi Global untuk manajemen Asma dan Pencegahan, yang meliputi 4 komponen yaitu
• Mengembangkan kemitraan dokter-pasien
• Mengidentifikasi dan mengurangi paparan faktor resiko
• Menilai dan memonitor asma
• Mengelola eksaserbasi asma
Saat ini diperkirakan 300 juta penduduk dunia menderita asma, prevalensi penyakit ini pun semakin meningkat dari tahun ketahun baik di negara maju maupun di negara berkembang. Di Indonesia dari rangkuman beberapa penelitian tampak terjadi peningkatan prevalensi asma dari 4,2 % menjadi 5,4%. Kota Jakarta memiliki prevalensi asma yang cukup besar yaitu mencapai 7,2%. Dampak asma juga ditunjukan pada penelitian di Amerika Serikat. Penderita asma kehilangan 10.1 juta hari sekolah atau dua kali lebih besar dibandingkan anak yang tidak menerita asma, menyebabkan 12,9 juta kunjungan ke dokter dan perawatan di rumah sakit pada 200.000 penderita per tahun. Survey yang sama juga menunjukan adanya keterbatasan aktivitas pada 30% penderita asma dibandingkan hanya 5% pada yang bukan menderita asma.
Penelitian pada asma dewasa, dikatakan jumlah pekerja yang absen karena asma lebih dari enam hari pertahun mencapai 19,2% pada penderita asma sedang sampai berat, serta 4,4% pada penderita asma ringan. Laporan dari Centers for Disease Control and Prevention di Amerika Serikat melaporkan terdapat sekitar 2 juta penderita asma mengunjungi Unit Gawat Darurat dengan 500.000 penderita diantaranya harus mendapat perawatan di rumah sakit tiap tahunnya. Ditinjau dari segi biaya pengobatan asma bisa dikatakan tidak murah. Di negara maju biaya pengobatan setiap penderita asma berkisar 300-1300 US$ per tahun. Di Amerika Serikat secara keseluruhan mencapai 12 milyar US$ per tahun baik itu biaya langsung seperti biaya dokter, obat dan rumah sakit serta biaya tidak langsung akibat hilangnya produktivitas kerja. Semua beban akibat asma tersebut disebabkan oleh karena asma yang tidak terkontrol sehingga pengobatan asma yang efektif untuk mencapai asma yang terkontrol akan bisa mengembalikan penderita pada kehidupan yang normal dan juga menguntungkan dari segi ekonomis bagi penderita, keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Tujuan utama pengobatan asma adalah mencapai dan mempertahankan keadaan asma yang terkontrol. Pada penelitian di beberapa multi center hanya 5% di Eropa Barat dan 2,5% di Asia Pasifik penderita asma yang terkontrol baik. Dari sekian banyak faktor yang menyebabkan kontrol asma yang rendah terdapat dua faktor yang tampaknya memegang andil besar yaitu faktor dokter dan pasien. Dokter terlalu rendah menilai asma dan kemudian meresepkan obat yang tidak adekuat. Obat pengontrol asma seperti kortikosteroid inhalasi sangat rendah pemakaiannya, para dokter lebih suka menggunakan obat pelega dan bahkan obat batuk dan antibiotika yang seharusnya tidak diperlukan. Dilain sisi pasien merasa dirinya sudah terkontrol, apalagi adanya pemahaman “No symptoms No Asthma” menyebabkan pasien hanya berobat kalau ada gejala saja tanpa perlu memakai obat pengontrol.
Saat ini peneliti berupaya untuk menentukan alat ukur yang bisa mewakili kontrol asma secara keseluruhan mulai dari pengukuran salah satu variable sampai pada gabungan beberapa variable sehingga sasaran pengobatan menjadi jelas. Saat ini setidaknya terdapat 5 alat ukur berupa kuisioner baik atau dengan pemeriksaan fungsi paru. Salah satunya adalah Asthma Control Test (ACT) yang di perkenalkan oleh Nathan dkk tahun 2004. Kuisioner ACT ini telah diuji coba di Poliklinik alergi-imunologi klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM dengan hasil keandalan internal 83%, keandalan interklas 92% kesahihan dengan fungsi paru 24%, dan kesahihan dengan penilaian klinis 74% sehingga dapat disimpulkan ACT ini dapat dipakai di masyarakat kita. Manfaat dari asma yang terkontrol dapat menurunkan kunjungan ke Unit Gawat Darurat dan merunkan perawatan di rumah sakit.
Kontrol asma di Indonesia termasuk rendah karena pengetahuan dokter dan masyarakat masih kurang. Terdapat suatu penelitian kalau penggunaan kortikosteroid inhalasi masih kurang di Indonesia dan pemeriksaan fungsi paru hanya 1,5% yang dilakukan secara teratur. Selain kendala pengetahuan, menurut GINA distribusi obat di Indonesia masih belum baik selain ketidakmampuan dan daya beli masyarakat yang tinggi. Perlunya upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang asma kepada petugas kesehatan dan juga pada masyarakat. Bantuan pemerintah dalam memproduksi obat asma yang murah yang terjangkau juga merupakan hal yang penting terutama obat-obat kortikosteroid inhalasi maupun kombinasi kortikosteroid dan agonis beta-2 inhalasi kerja panjang/lama.
Pada Hari Asma Sedunia tahun ini, dingatkan akan pentingnya penatalaksanaan asma yang baik akan mencapai kondisi asma yang terkontrol sehingga kualitas hidup penderita akan meningkat dan akhirnya sejalan dengan program pemerintah untuk mewududkan masyarakat Indonesia yang sehat dan berkualitas.
Tuberculosis:Masalah dan Tantangan di Masa Depan

Di Indonesia terdapat 220.000 orang pasien penderita Tuberculosis baru per tahun atau 500 orang penderita per hari. Angka kematian 88.000 orang/tahun atau 240 orang/hari meninggal akibat penyakit Tuberculosis.
Diperkirakan kuman Tuberculosis (Mycobacterium tuberculosis) telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. Di negara-negara berkembang kematian akibat tuberculosis (TB) merupakan 25% dari seluruh kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara berkembang, 75% penderita TB adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). Pada tahun 1993, WHO mencanangkan kedaruratan global (global emergency) penyakit TB karena pada sebagian besar negara di dunia, penyakit TB ini makin tidak terkendali dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan.
Indonesia merupakan negara dengan penderita TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Diperkirakan jumlah penderita TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah penderita TB di dunia. Tahun 1995, hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. Hasil survey Prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 menunjukan bahwa angka prevalensi TB (dengan pemeriksaan dahak mikroskopis menunjukan hasil Basil Tahan Asam/BTA positif) secara Nasional 110 per 100.000 penduduk, khusus untuk provinsi Bali angka prevalensi TB adalah 64 per 100.000 penduduk. Di Indonesia terdapat 220.000 orang pasien penderita TB baru per tahun atau 500 orang penderita per hari. Data tahun 2008 menunjukan angka kematian 88.000 orang/tahun atau 240 orang/hari meninggal akibat penyakit TB.
Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB yaitu kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat, kegagalan program TB oleh karena tidak memadainya komitmen politis dan pendanaan, pelayanan TB yang kurang maximal (kurang terakses oleh masyarakat, diagnosis dan panduan obat yang tidak standar, obat tidak terjamin persediaanya,monitoring dan evaluasi yang kurang baik) dan juga perubahan demografi penduduk.Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Koinfeksi dengan HIV akan meningkatkan resiko TB secara signifikan. Pada saat yang sama kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB ( multidrug resistance= MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan ini pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani.
Strategi yang telah dikembangkan oleh WHO dalam penanggulangan TB adalah DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) yang sampai saat ini secara ekonomi paling efektif. Di Indonesia dilakukan suatu studi cost benefit penerapan strategi DOTS dan didapatkan hasil setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan penderita dengan prioritas pada penderita TB yang menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demikian akan menurunkan insiden TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan penderita merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB.
Pada bulan Januari 2006 pada Forum Ekonomi sedunia di Swiss dicanangkan The Global Plan to Stop TB 2006-2015 dimana dilakukan upaya dan langkah-langkah strategis untuk mencapai tujuan Millenium Development Goal (MDGs) tahun 2015 yaitu mampu menurunkan insiden TB, kemudahan akses pelayanan TB dan mengobati semua penderita TB sehingga diharapkan 14 juta orang akan terselamatkan, 50 juta penderita TB terobati, sekitar satu juta penderita terobati dari Multi Drug Resistance (MDR), penemuan obat TB yang baru, vaksin TB terbaru di tahun 2015 serta test diagnostik yang cepat dan murah.
Tahun 2010 merupakan titik pertengahan dari The Global Plan to Stop TB 2006-2015. Pada setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari TB sedunia (World TB Day) sebagai peringatan ditemukan kuman TB oleh Robert Koch tepatnya pada 24 Maret 1882. Pada tahun 2010 ini dikampanyekan suatu tema On the move against tuberculosis: Innovate to accelerate action, tema inovasi yang digaungkan merupakan suatu kebutuhan akan suatu cara baru dalam aksi penanggulangan TB. Selama ini pengobatan TB masih menunjukan hasil yang belum memuaskan sehingga harus terus meningkatkan usaha dan mencari cara-cara baru dan inovatif untuk menghentikan TB jika ingin mencapai Millenium Development Goal (MDGs) tahun 2015. Kampanye tahun 2010 ini berfokus pada individu-individu di seluruh dunia yang telah menemukan cara baru dalam penanggulangan TB dan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.
Sampai saat ini yang harus tetap dilakukan adalah tetap mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS, merespon masalah TB HIV dan MDR TB, memperkuat sistem kesehatan, melibatkan pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta, pemberdayaan masyarakat dan terus menerus melaksanakan dan mengembangkan riset. Diharapkan ditemukannya suatu inovasi atau strategi baru yang lebih baik dalam hal teknik diagnosis yang lebih cepat dan tepat, obat anti TB yang baru dengan masa pengobatan yang lebih pendek serta murah dan kemudahan dalam monitor dan evaluasi.

